Sunday, August 31, 2014

Surat Yang Tak Pernah Sampai [2001]

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam... tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya—dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-baik. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidup nya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati.
Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala... dan itu lah tujuan kalian.

Kalau saja hidup tak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selama nya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka... tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa-apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata 'sejarah'  mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. Skenario perjalanan kalian mengaharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa kesatuan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadi nya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepak-terjang-nya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming berat, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu—entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini. Hingga akhirnya...

Di meja itu kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa bisa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

Dan kamu yang bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata 'jangan' yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan... yang menunjukan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.


Menulis ulang salah satu kumpulan cerita dan prosa dari buku Filosofi Kopi halaman 40-46 garapan Dee. Karena bab ini salah satu bab favorit. Dan merasa ada ikatan yang menarik jiwa saat baca tiap kata nya. Seakan menyatu. Sangat memesona.

Read More

Saturday, August 30, 2014

Today's (Hi)story

Post hari ini atas perintah Mbak Primadita, Jendral Kancut Kebelenger Surabaya. Sebenernya bukan karena perintah juga, sempat terbesit untuk menulis apa yang disampaikan Mbak Primadita jauh-jauh hari bulan dan tahun belakangan, tapi belum nemu mood yang pas. Padahal kata Alitt, mood itu salah satu alasan orang males buat nunda.

Hmm, ya gimana ya, maz Alitt.

Jadi hari ini aku sama seorang teman yang mungkin sudah kuanggap sebagai kakak--ya karena kita satu SD tapi aku baru tau kalo dia kakak kelas ku begitu kita dipertemukan lagi satu SMK. Manis sekali. Dayu panggilan lumrahnya. (((Lumrahnya)))

Tapi memang kedekatan kita dari aku jadi junior di SMK, sampe lulus pun kita masih langgeng. Seandainya aja Mbak Dayu ini laki-laki idaman yang selama ini aku tunggu, andaikan, nyatanya ya bukan. Kasian.

Well, hari ini aku mengikuti bincang santai yang diadain Gerakan Mahasiswa Surabaya dengan tema "blogging is fun" di Perpustakaan Umum Balai Kota Surabaya. Acara ini gratis, dan aku sendiri tau acara ini dari sosial media, yap twitter! Sebagai muda-mudi masa kini kan harus dituntut supaya uptodate, toh.

Berangkat dari rumah jam 7:15 pagi, jemput Mbak Dayu. Dan ternyata, aku bisa merasakan beban mas-mas yang biasa nya nganter tabung LPG pake sepeda motor polosan tanpa ada gerobak di samping atau belakang motornya, begini toh rasanya.

Tapi menurut petuah ala Princess Giska, "yang paling berat didunia ini cuma beban kehidupan, bukan yang lain. Tapi peringkat kedua juga ada: bawa ransel isi laptop, didalem laptop isi file-file penuh dosa."
Malah berat banget bebannya, nanggung berat di dunia nyata karena bebannya berat, nangung dosa juga di akherat. *ciye pesan moral*

Sesampainya di lokasi, kita sama-sama punya pemikiran yang sama, KAYAK NYA KE SHUBUHAN! Karena, mungkin kita peserta pertama yang dateng, mungkin. Habis tempat nya masih sepi, aku yakin pembicaranya pun barusan dateng pasti, hoho su'udzon gini, gaboleh ah.

Dan ya sembari menunggu acara dimulai, kita mengelilingi rak buku dan mencari buku incaran. Belum lama mencari sudah ada arahan supaya gabung karena acara mau dimulai.

Ternyata tema yang diangkat ini, tema tentang beginner. Sebenernya aku menggeluti blog udah dari kelas 10 SMK karena tugas Bahasa Inggris kalo ga salah, setelah itu ngepost ga penting dan akhirnya banyak yang dihapus juga.

Sampe akhirnya aktif lagi kalo gasalah tahun 2012-an lah. Dan hari ini dapet PR dari Mbak Primadita.

Apa yang membuat kamu tertarik di dunia blog?

Aku suka nulis baca dari kecil. Aku suka banget bikin cerpen, pantun sama puisi, apa lagi waktu SMP di jaman ababil nya dulu, aku rajin banget tiap sore naik ke atas genteng rumah--karena genteng rumah cor-cor-an lah kalo orang bilang. Bawa binder sama pulpen. Aku liat ke langit, liat burung-burung terbang sambil nuangin apa yang terlintas di depan mata atau di benak terus kutuangkan dalam balutan tinta hitam dilembaran kertas putih.

Jadi sebenernya, I'M NOT BEGINNER. Karena aku merasa udah nulis kok, aku udah nulis secara manual, sebelum ada bentuk digital diary, blog. Blog adalah sarana aku bisa melanjutkan hobi nulis ku.

Dan harus diakui belakangan aktiv ngeblog, bukan karena ikut-ikutan orang lain, atau trend blog udah menjamur dimana-mana, tapi karena ada panggilan nulis.

Whoever you are, don't bother knowing me at all, because I don't give you a fuck. Get a life, baby! *kiss

Ya, maklum lah ya kalo tiba-tiba sering banget keluar kata-kata yang kayak barusan. Maklumin.

Passion di dunia blog kayak gimana?

Blog bukan lah passion, blog cuma hobi semata. Daripada aku minum-minum, mabuk ngobat diluar sana yang malah ngerusak diri sendiri, agama, dan moral bangsa, ya mendingan nyalurin hobi yang positiv toh. *ciye pesan moral lagi*

Emm, tapi ga nolak juga sih. Ya barangkali emang ada salah satu postingan ku yang layak untuk di jadiin santapan masyarakat dan ada penerbit yang nawarin jadiin buku ya Alhamdulillah. Hehe.

*Wong, tulisan masih ala kadarnya gini.*

Blog kamu ini tentang apa?

Wah apa ya, ini masih awut-awutan, kadang sok ala pujangga, kadang juga masih cerita tentang apa yang terjadi. Masih labil nih blog nya. Tapi udah mulai terarah kok. Lebih ke yang sok ala pujangga, kayaknya. Hehe. We'll see.

***

Sebenernya Mbak Primadita nyuruh nulis lebih banyak dan dalem lagi, tapi toh nanti aku bakal nulis hal yang sama sebentar lagi karena tuntutan dan persyaratan yang harus di penuhi, jadi ya cukup sekian aja lah ya ngerjain PR nya.

Setelah acara selsei, kita masih di dalam perpustakaan mencari dan membaca buku. Belakangan ini aku antusias baca tentang politik ataupun hukum.

Sempat baca buku judulnya "Hukum dan Globalisasi" di daftar isi nya ada judul artikel "Hukum Ketidakadilan dan Ketidakpastian" kalo ga salah sih di halaman 92.

Jadi, buat kamu yang sekarang punya pacar dan selingkuhan, kalo ga adil sama keduanya. Dan atau kamu yang ga kunjung ngasih harapan pasti sama orang yang udah lama nunggu, MAU KENA HUKUM DIJERAT PASAL BERLAPIS? Berapa lapis? Ratusan. Heyaah.

Setelah puas baca dan Mbak Dayu berhasil ngurus KTA dan meminjam buku dari pengarang ternama dan emang yang lagi dicari sama dia, kita ke musolah buat sholat dzuhur.

Di musolah, aku jumpai anak laki-laki yang muka nya manis nan imut. Terlintas dalam benak ku, "sekilas mirip..." iya mirip seseorang yang....spesial (pake telor pedas karet dua) buat ku. Iya mirip.

Kok ya rasanya ini semacam kode illahi, halah.

Setelah sholat kita putuskan untuk makan di sentra PKL Taman Prestasi Surabaya. Jaraknya pun ga jauh dari perpustakaan. Dua porsi nasi goreng untuk dua perempuan yang kelaparan. Mending kelaparan, daripada kehausan, haus kasih sayang. *Biasa nya kalo kalimat ini diucapin langsung didunia nyata, pasti ada suara-suara yang nyeletuk nama hewan, kotoran, atau lain nya.* Hehe.

Oh iya, Karena aku ga bisa ngurus KTA di perpustakaan Surabaya soalnya ga bawa fotocopyan KTP, aku mutusin buat ke Perpusda Sidoarjo, sendirian. Dan viola, aku sudah meminjam tiga buku: Cado-Cado dokter muda serba salah, Filosofi kopi, dan Maestro.

Sounds great, yeay!

Malem ini aku udah namatin Filosofi Kopi karangan Mbak Dee. Dan mungkin aku juga mau namatin tulisan ku ini. Sudah malam Princess bobo. Banyak bunga-bungaaaa ciaobellaaaa muuaach!

Oh iya, jangan pernah berhenti menulis. Karena dengan menulis bisa menyalurkan energi positiv untuk orang lain pula. Menulis juga ngebantu dalam pekerjaan. Semangat untuk rajin nulis dan baca. Jangan bodoh hanya karena informasi abal-abal dan kurang terpercaya.

Read More

Friday, August 29, 2014

Sedih nya Inem

Hai, ini cerita fantasi gila yang ntah dapet pikiran darimana. Sila dibaca dulu aja.

                                           ***

Di malam itu aku dateng ke acara komunitas seperti biasa. Maklum, aku memang aktiv bersosialisasi sana sini. Dan memang karena teman-teman ku ada dimana-mana, bukan bermaksud pamer sih, tapi ya gitu deh. Malem itu tanpa ada pikiran apapun aku langsung menyatu sama komunitas tercinta ku.

Ada yang udah nunggu lama, ada yang dateng nya telat, ada yang udah nunggu lama tapi ga dikasih kepastian. Ada yang dateng telat karena daridulu ga ngungkapin perasaannya. Kan keduluan orang jadi nya!

Aku duduk sekitar setengah jam dan tiba-tiba salah seorang teman dateng, Paijo. Dan, eh dibelakang Paijo kok...Asep? Hah, serius Asep? Seketika itu aku speechless dan entahlah ekspresi apa yang harus aku tunjukin karena aku seneng banget. Banget. Ibarat ikut arisan, dan kita dapet arisan. Padahal arisannya itu arisan gorengan. Cuma 5 orang lagi.

Aku : "Jo, kok kamu gabilang?"
Paijo : "Surprise"
Aku : "Tai, Jo"
Terus saat itu aku salaman sama Asep dan,
Aku: "kok masih di sini...?"
Asep: "iya emang disini."
Dan saat aku salaman sama Asep, tangan Asep aku tahan sepersekian detik pas aku tanya. Ternyata anak komunitas memperhatikan. Aku ga peduli. Aku kangen dia.

Oya, aku dan Asep udah kenal dan dekat selama lebih dari satu tahun. Kita dekat memang karena komunitas ini, tapi bener-bener mengalir kayak hilir sungai, ga ada ujungnya. Iya ngalir terus. Kita berteman, tapi lebih juga dari teman. Tapi kita ga pacaran. Jalani aja dulu, katanya. Hubungan kita ya gini-gini-aja, kadang ada saat nya komunikasi intens, kadang hilang sendiri-sendiri. Tanpa ada ikatan yang mengikat. Kadang Asep jalan sama siapa, aku jalan sama siapa. Sendiri-sendiri. Tapi sebenernya kita sadar kalo kita punya rasa yang sama tapi ga ada yang mau mulai duluan.

Kalo lagi intens komunikasi tiap malem, rasanya ga pernah berhenti ketawa. Ada aja lawakan Asep yang bikin aku ketawa, senyum sendiri. Pokoknya Asep emang ya gitu deh. Aku pernah cukup lama fokus nunggu Asep, tapi rasanya dia ga sadar. Entahlah. Aku enggan buat nanya. Karena semakin hari ada perasaan yang berbeda. Tapi ga jarang juga Asep buat sedih, nangis, bete, galau, ada hal hal yang sebenernya udah aku terima dan udah biasa buat aku, karena Asep cukup sering ngelakuinnya. Moody. Kalo mood Asep lagi ga enak, bener bener ga enak. Apa lagi kalo kepribadian Asep beda. Pasti cuek banget. Emang Asep tipe nya cuek, tapi kalo pas diri nya lagi berubah, dia bener bener beda.

Malem ini aku seneng banget Asep dateng. Karena Asep mutusin untuk pendidikan di luar kota, alhasil dia bakal jarang, mungkin hampir ga pernah kumpul sama komunitas ini. Dan ini aku bener bener kaget, karena beberapa hari yang lalu aku nanya ke Asep apa dia lagi di luar kota? Asep jawab iya. Dan malem ini bener bener ga keduga. Paijo juga berhasil nyembunyiin ini dari aku. Sial.

Aku ga berhenti mandangin Asep. Bener bener kangen tapi ga bisa ngeluapin nya. Malu? Iya. Rasanya pengen ngomong kalo aku kangen, aku pengen ngobrol banyak sama kamu, Sep. Tapi ga bisa. Entah berapa lama aku mandangin Asep. Sampe mungkin Asep sendiri risih.

Aku cuma pengen waktu berdua buat ngobrol, karena aku emang kangen sama Asep. Entahlah kangen ku ini berupa kangen sebagai apa, yang pasti Asep adalah salah satu orang yang spesial buat ku.

Sampe pada akhirnya mau pulang, aku minta satu permintaan sama Asep. Awalnya Asep menganggukan kepala, tapi akhirnya ga jadi juga. Di situ aku bener bener ngerasa down banget. Aku ngerasa, aku ini siapa sih? Minta seenak nya aja. Tapi aku beneran sedih. Bahkan sampe detik-detik aku mau pulang, Asep ga nengok aku sedikitpun. Aku tiba-tiba ngerasa....jatuh. ada yang hilang tapi entahlah. Aku kehilangan Asep yang aku kenal. Mungkin emang karena belakangan hari ini Asep lagi ga enak, kayak cewe lagi PMS gitu, kok aku bisa tau? ya karena kita masih kirim pesan.

Entahlah, aku sedih. Sepanjang perjalanan pulang, aku cuma nahan supaya ga netesin air mata. Tapi akhirnya netes secara perlahan, dan terbesit dalam pikiran ku "ada yang hilang".

Aku terbiasa dengan sesuatu yang tiba tiba hilang, tapi kali ini beda. Aku ga bisa nahan kalo aku kangen sama Asep, tapi perlakuan Asep malem ini seakan aku cuma orang biasa buat nya. Ya emang aku orang biasa, bukan siapa siapa, tapi kan...

Sep, andai kamu tau kalo aku kangen.
Aku pengen nghabisin waktu sama kamu berdua, Sep. Sebentar pun gapapa. Aku kangen, Sep. Kangen.

Tertanda,
Inem.
Read More

Wednesday, August 27, 2014

Percakapan Singkat

Malam yang biasa nya terasa dingin, seketika menghangat setelah nada pesan di ponsel berbunyi. Sungguh ini bukan lah mimpi.

Dia yang kini jauh dari ku mengirim pesan singkat. Tidak lah padat, atau pun menanyakan kabar. Hanya keingin-tahuan akan suatu hal.

Tidak, tidak berhenti disana. Kami saling membalas pesan. Seperti biasa, obrolan ringan yang mencairkan suasana. Dan seperti biasa pula dia membuat ku tertawa dengan lawakan khasnya.

Jujur saja aku merindunya..

Dari sini selalu ku kirimkan doa, untuk dia seorang teman yang merantau jauh dari ku. Tetaplah begitu, lelaki lucu berwajah lugu yang menghiasi malam dingin ku.
Read More

Monday, August 25, 2014

Hilangnya Lelaki Itu

Dinginnya malam memburu seakan ingin menghentikan waktu. Tumbuh rasa rindu, pada siapa ini tertuju?

Padamu, lelaki lucu berwajah lugu yang kedatangannya selalu ku tunggu.

Di setiap malam itu tak ku temui jelmaan diri mu. Aku mencari dan terus mencari tanpa henti. Tapi aku sadar kau memang tak di sini.

Mungkin terlihat klise tapi aku rasa ada yang hilang. Kau tak datang. Sekilas aku merasakan hadirmu dalam sebuah bayang-bayang. Harapan ku tinggi melayang tapi nyatanya itu hanya rasa rindu yang malang.

Serpihan tawa mu masih terdengar renyah di telinga, jujur saja aku rasakan hampa mengetahui kau pergi dan meninggalkan sisa canda yang kau punya.

Di kursi ini aku duduk manis melihat orang lain tertawa lepas tanpa beban, seorang diri. Dan tak sambil memandang wajah lugu mu seperti biasa nya.

Semua telah berbeda.

Malam itu harusnya menjadi malam jumpa kesekian, puluhan, atau ratusan

Entahlah, aku hanya ingin malam itu kau datang dengan senyuman. Tak peduli apa yang orang katakan.

Karena secangkir coklat panas telah menanti mu di sini, di tempat awal kita bertatap mata dan merasakan getaran magis dari dalam hati

Cepatlah kembali, lelaki lucu berwajah lugu yang ku tunggu
Read More

Sunday, August 24, 2014

Random-mode, Random-postingan

Lagi dan lagi malam minggu mengurungkan niat untuk keluar rumah. Bukan karena tak ada rencana, tak ada yang mengajak lebih tepatnya. Yang ditunggu entah kemana aku pun tak peduli. Mengingat apa yang terjadi belakangan ini. Tak ingin terulang lagi. Cukup sekali. Lebih baik aku pergi.

Ditemani lagu manis yang sepertinya terlalu muda untuk mendengarkan lagu ini karena lirik demi lirik nya menyentuh hati, Mirror dari Justin Timberlake. Ah, lagu ini...pernah kita senandungkan bersama dalam sebuah karaoke dadakan bersama beberapa teman. Entah bagaimana bisa ini terlintas dipikiranku padahal tidak sedikitpun ada keniatan saat kita duet bersama. Ah, duet itu ya...masih tak habis pikir sampai sekarang. Sudah lah lupakan paragraf ini.

Awalnya ingin bercerita dan menulis tentang survey yang sudah aku persiapkan. Tapi belakangan ini susah untuk mendapatkan good-mood saat menulis. Terlebih lagi merangkai kata-demi-kata tak serapih biasa nya. Banyak draft yang tak terselesaikan. Banyak waktu yang kubuang hanya untuk menulis dan berhenti ditengah jalan. Waduh, bahaya! Minggir duluuu...

Terlebih lagi belakangan ini kacau bertubi atau biasa nya anak jaman sekarang menyebut "random-mode" nah itu yang aku alami.

Kalian pasti pernah mengalami masa dimana kalian ingin marah, tapi ga tau karena apa. Ingin kecewa, mungkin sudah dirasa tapi susah untuk mengungkapnya. Ingin melakukan sesuatu tapi bingung memulainya. Lalu apa yang harus di lakukan? Ambil minyak tanah, ambil korek, bakar kantor polisi terus pesta barbeque di situ.

Jangan lah itu terlalu anarkis. Istighfar. tapi kalau mau coba ya sila saja.

Jujur saja aku merasa kecewa pada semua yang pernah kurasa. Semua ya semua. Hanya saja aku mencoba lupa dan tak ingin mengingatnya. Aku merasa dan tak perlu untuk menanggapi sesuatu hal yang sekiranya itu tidak lah penting. Aku tak peduli. Klimaks nya mungkin semalem, saat aku merasa random hanya karena sedikit ketololan yang aku lakukan. Tolol.

Aku harus meluapkan ini. Akhirnya aku meluapkan di jalan raya. Aku ngomong sendiri dan tak peduli orang menganggap gila. Begitu sampai rumah, aku bercerita pada beberapa teman tapi tidak lah klimaks juga. Aku bersyukur di malam itu juga aku telah tertawa. Mereka menghibur dan menyadarkan ku. Dan aku selalu ingat satu kalimat dari seorang komika saat aku tanya pertanyaan padanya dan dia menjawab, "aku ga punya waktu buat ngurusin mereka"

Kalimat ini aku terapkan untuk tidak peduli pada orang orang atau hal negative yang menyangkut pautkan namaku. Bisa baca kan? AKU GA PEDULI.

Betapa bersyukurnya aku punya mereka yang selalu membuat ku ketawa, mereka yang selalu mengingatkan ku, mereka yang memarahi ku ketika aku melakukan hal tolol. Aku merasa bahagia. Langit masih tetap biru, malam dan pagi masih silih berganti. Untuk apa aku memikirkan sesuatu yang telah melukai hati. Ah persetan lah kau. Biar tangan Allah yang bergerak dan bekerja untuk membalasnya.

Allah mengirimkan hiburan lewat perantara teman-teman yang memang tugas nya menghibur dengan cara masing-masing. Terima kasih tiada henti kuucapkan.

Belakangan ini lebih sering dzikir. Ibarat angka, biasa nya cuma 33 kali, tapi kali ini bisa sampe 99 bahkan lebih dan lupa berapa jumlahnya. Ya salah satu berkah. Hati lebih tenang dan Allah tidak lah tidur. Allah tau siapa saja yang akan diberi ganjaran pada mereka yang berbuat tak tau aturan. Sungguh kasihan.

Ya maaf ya untuk yang menunggu (yakali ada yang nungguin) tulisan untaian kata seperti biasa nya, harus ternoda dengan postingan random yang entah lah malah seperti ini.

Tulisan ini tidak terdedikasi untuk siapa siapa, barangkali ada tamu tak di undang dan membaca lalu merasa, ya sila saja. Siapa suruh masuk rumah tanpa menyapa tuan rumah. Sudah lah jangan terlalu ingin tahu. Kalau perlu dan ingin bertanya ya mention aja ke twitter @giskadis, tak usah malu kalo toh ya sering diam diam mencari tahu berita terbaru ku. Ciye. Eh salah maksud ku, Cih.
Read More

Saturday, August 23, 2014

Berlari lah

Berlari lah hingga kau lelah, kehilangan arah dan merasa semua tak pernah ada.
Berlari lah jika buatmu bahagia, kan ku lebarkan pintu tak kan ku cegah
Berlari lah dengan semua janji, bawa lah pergi karna itu hanya lah dusta

Berlarilah hingga kau tak nampak lagi. Bahkan aku tak ingin kau kembali

Berlari lah bawa semua kenangan singkat itu, aku tak ingin kau hadir lagi dalam mimpiku

Berlarilah bawa rasa bersalah mu, dengan penyesalan yang akan kau tangisi, mengingat kau pergi tanpa permisi dengan janji tanpa bukti

Dan saat kau kembali, rasaku telah mati
Kau bersedih merenungi yang terjadi. Inginkan tawa canda lagi di setiap hari, tapi sayang tak kau dapati sosok diri ku di sisi mu, kasih

Tenang lah, aku menghibur mu dengan rayuan alam yang tak kau duga. Mereka menemani mu tanpa lelah.

Mereka adalah aku, saat kau lelah dan butuh canda kan ku beri tanpa kau minta, tapi kau malah pergi, hilang dan membawa semua canda ku untuk nya yang telah menggoreskan luka dalam relungmu. Sangat lah lucu.

Berlari lah kasih, berlari lah tanpa henti
Sebelum ku lemparkan belati di tangan ku ini
Read More

Tuesday, August 19, 2014

Terbelenggu Ego


"kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari" - Kahlil Gibran

Penggalan puisi yang aku jumpai pada lembaran kertas usang yang pernah aku tulis beberapa tahun lalu ini buat ku merenung sepersekian detik. Seakan waktu terhenti dan meminta otak memutar memori belakangan ini. Tragedi menunggu kedua kali dan berakhir tanpa jawaban pasti. Sedih.

Menjalani hari masing-masing tanpa peduli apa lah kita ini. Dia dengan dunia nya, aku dengan dunia ku. Namun ada kenyamanan saat kita berbagi cerita di malam hari. Mengapa malam? Iya di malam hari ini lah otak kita meminta meluangkan sedikitnya waktu untuk saling berbagi tawa, cerita dan cin...ahsudahlah dia tak percaya bahwa cinta itu magis.
Tidak kah dia punya hati? Punya, hanya saja terlalu malu memfungsikan hati secara tepat. Dia mengagungkan, tidak, dia memiliki lebih banyak jiwa logika daripada jiwa perasa. Mengedepankan logika, bahkan lupa hati berperan dalam kehidupan, tidak, lebih tentang hubungan.

Ketika ego saling beradu, mengeluarkan segala ilmu dan tak ada yang peduli siapa yang benar diantara kita karena tak ada satu orangpun tau. Lucu.

Aku tak pernah menolak segala logika yang ia jabarkan. Aku kagum bertubi tanpa henti oleh kegilaan logika nya. Bukan juga aku mengalah untuk nya. Hanya aku beri sanggahan bahwa semua nya tak melulu dengan dan tentang logika.

Bagaimana kita bertemu? Bagaimana kita bisa sedekat ini? Bagaimana bisa kau menyuka saat awal bertegur sapa? Kau paparkan jawaban bahwa otak lah yang bekerja dan meminta. Tidak kah hati mu rasa ada yang salah? Ada yang beda saat dekat denganku? Tidak kah kau rasakan itu? Dengan segala keterbatasan aku yakinkan bahwa yang ku rasa tidak lah salah. Hanya mungkin aku tak berani berkata, begitu pun sebaliknya. Kita saling memendam rasa padahal tau bahwa itu rasa yang sama. Itu lah ego yang tak mau ngalah.

Sang malam tertawa getir melihat tingkah kita seakan dapat berkata "hai kawula muda, buanglah kesombongan ego kalian. Bicaralah bahwa kalian miliki rasa yang sama. Letakkan sedetik saja sesuatu memuakkan yang biasa kalian sebut logika. Dan kau pemuda, lihatlah dengan mata hati barangkali tersadar bahwa wanita manis ini sungguh mencintai" sembari memamerkan pelita yang menghiasi setiap inchi raga hitam nya.

Kini ratusan kilometer menjadi penghalang, kau pergi tentu dengan permisi, meninggalkan sisa bayangmu di sini, membiarkan aku mabuk kerinduan yang tak pernah berhenti. Tidak lah terlalu pedih hanya saja aku merasa sepi tak melihatmu lagi saat bertemu di hari ini. Hari dimana aku tertawa atas perjuangan mu membuat orang lain tertawa pula, kasih.

Yang ku ingin bukan lah cinta tanpa logika, hanya saja rasa lah sesuatu ini dengan hati. bukan lah hubungan tak berujung dan berakhir semu, hanya saja lelah untuk aku lebih lama menunggu. Bukan lah ingin kau pergi dan meninggalkan ku dengan sejuta harapan, hanya saja mungkin memang belum waktunya hati mu berfungsi dengan tepat.

Kita berdua adalah cinta yang tak saling kita sadari karena ego telah membiarkan rasa tumbuh tanpa pernyataan dengan pasti. Katakan padaku, apa nama nya jika ini bukan lah cinta. Jika hati tak ikut bekerja. Katakanlah padaku, aku menunggu jawaban itu saat kau pulang, menghampiri ku dan berkata "aku rindu.."

Read More

Saturday, August 16, 2014

Maaf Yang Sama

Malam ini mengurungkan niat keluar dan memilih untuk membunuh malam di teras rumah, menikmati ribuan cahaya memesona di atas sana sambil ditemani secangkir susu coklat hangat, beberapa helai roti bakar coklat keju buatan sendiri dan lagu lama yang tentu masih bersahabat di telinga, entah siapa penyanyi nya yang jelas lagu enak ini berjudul First Love.

Berhenti menulis sejenak dan menyeruput susu coklat sambil mendongakkan kepala ke atas dan tersenyum seakan dapat bicara pada mereka yang bersinar di atas sana.

Teras rumah adalah bagian yang menginspirasi kedua setelah kamar. Entahlah, duduk di sini malam hari membuat ku lebih hidup dan menyatu dengan alam sekitar. Beberapa tumbuhan hijau, suara hewan yang lumrah di dengarkan di malam hari, hembusan angin. Merasa aku bagian dari mereka yang tak terpisah

Barangkali boleh kita duduk di sini bersama. Berbagi cerita dan tawa seakan malam milik bersama.

Malam ini malam kemerdekaan, banyak bendera yang terpasang di tiap rumah, dan lorong perumahan. Merah putih bergoyang karena hembusan angin yang menggoda manja. Tak henti untuk tersenyum di malam ini. Entahlah.

Tidak, tidak sedang jatuh cinta. Hanya saja mensyukuri atas apa yang Allah berikan selama ini. Atas nikmat dunia, segala ujian yang terjadi belakangan ini. Bagaimana bisa aku berdiri setegar dan sekuat ini kalau bukan karena-NYA.

Maaf.
Terbesit kata itu dikepala dan ingin menuangkan dalam tulisan malam ini.

Ada orang yang mudah minta maaf, ada pula yang mudah memafkan. Ada yang susah minta maaf, ada pula yang susah memafkan.

Nyatanya dalam perjalanan hidup setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Di sengaja atau tidak, dalam tindakan atau ucapan, sadar atau tidak mereka bersalah. Bermacam. Sama hal nya perasaan ku saat dekat kamu, bermacam, hanya saja rasa nyaman lebih unggul.

Kalian pernah menemukan manusia tolol kah? Iya manusia tolol adalah manusia yang memohon maaf untuk kesalahan yang sama dan sudah berulang kali dilakukan. Barangkali kata tolol terlalu kasar, sila perhalus sendiri. Tapi kalau sependapat dengan ku ya memang sepantasnya begitu. Hehe, sesekali memaksa bukan lah masalah.

"Don't bother apologizing if you're just going to continue doing the things you said sorry for."

Manusia seperti ini memang butuh di sekolahkan lagi dengan ilmu kehidupan permaafan. Maaf sendiri bukan lah kata yang susah diucapkan. Hanya saja terasa muak jika sering di perdengarkan ratusan kali karena perbuatan yang selalu sama. Tidak kah begitu?

"Tuhan Maha Pemaaf, masa sesama manusia ga mau maafin?"
Tolong jangan lah mengatas namakan Tuhan kalau ibadah hanya ala kadarnya, datang ke Tuhan kalau lagi butuh. Memang ga ada salah nya, tapi apa ga malu?

Tidak kah bosan menjadi manusia yang hanya bisa meminta maaf ratusan kali saat melakukan kesalahan yang sama? Tidak kah bosan menjadi bahan pembicaraan di luar sana? Tidak kah bosan merasa selalu gagal?
"Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda" iya untuk orang-orang yang berjuang, kerja keras dan selalu berdoa. Tidak untuk manusia tanpa usaha.

Terlalu banyak kata maaf tidak menjadikanmu hebat. Sadar lah, perbaiki kesalahan dan masalah mu dengan tepat, agar tidak terulang di kesalahan yang sama.

"Keledai tidak akan jatuh dilubang yang sama" hari ini keledai terjatuh karena tidak melihat kalau jalan yang biasa dilalui mendadak ada lubang. Esoknya dia tahu kalau jalan itu berlubang, dia mencari jalan lain untuk bisa sampai tempat penuh rerumputan hijau. Hewan saja paham bagaimana harus bertindak, masa manusia tidak?

Maaf, adalah kata ajaib. Jangan sering terucap karena kesalahan yang sama. Karena orang lain tak akan menganggap sebuah penyesalan mendalam.
Read More

Wednesday, August 13, 2014

berkata tanpa suara

Ingatkah saat awal jumpa
kita bertegur sapa tanpa malu 'tuk bicara
Bercerita tentang agama hingga cinta
Tak kenal lelah, dan tak terasa malam pun telah tiba

Duduk di teras rumah berwarna tawa
Dibawah gemerlap bintang kita bersuara
Menikmati hembusan angin menyentuh raga
Layaknya pasangan muda di mabuk asmara

Tidak kah kau ingat betapa lucu nya kita?
Membiarkan mata yang bekerja
Saling menatap tanpa suara
Adakah yang kau rasa?

Tersadar pipi ku mulai merah
Tak kuasa menahan indahnya tatapan mata
Tak dapat berkata-kata
Aku terpesona, pada setiap inchi raga yang kau punya

Aroma tubuh mu lumpuhkan indera penciumanku
Sentuhan lembut mu buat perasaan dingin ku luluh
Hembusan nafas mu ingin kurasakan tiap waktu
Yakinkan aku ini bukan lah semu

Malam itu kita berbagi cerita
Penuh canda tawa tak kan terlupa
Saling menatap tanpa suara
Adakah yang kau rasa?
Read More

Sunday, August 10, 2014

Idaman atau Standard

sinar matahari siang ini seakan ga bisa di ajak untuk sekedar menikmati lemon tea ice bersama. Begitu menyengat hingga ke lapisan kulit paling dasar. Di iringi lagu dari Faith Hill-Part of your world, pikiran ku berfantasi tanpa henti, dan belakangan menjadi random karena terlalu fokus pada satu titik, yang biasa di panggil, hati, sesuatu untuk merasakan segala macam perasaan yang tercipta.

Yang senang di awal, lalu berubah meneteskan air mata di akhir. Yang penuh harapan berujung pada kekecewaan. Yang bertabur janji manis berakhir membuat hati ter-iris. Miris.

Duduk di teras rumah, menatap kanvas biru di atas sana yang luasnya tak terhingga, terlintas satu pikiran jika dihadapkan pada beberapa pilihan yang kadang orang benci atau bingung untuk memilih satu diantara nya.

Jadi gini, kalo kamu (perempuan) dihadapkan 2 pilihan kayak gini:

• dia (laki-laki) yang pengertian dan perhatiannya besar, sosok idaman kamu. Dia nyaman sama kamu, sifatnya dia pun dewasa. tapi kadang dia masih kebayang sama masa lalu nya.

• Atau, dia yang perhatiannya standard, biasa aja, bahkan bisa dibilang terkesan cuek. dia sayang cuma malu-bingung nunjukinnya gimana karna dia ga terbiasa. dia ga banyak nuntut. dia juga nyaman kalo sama kamu. Tapi sifatnya childish.


Di sini aku ngasih alasan disetiap jawaban, dan juga diskusi yang berujung nyurvey 4 teman perempuan yang bisa di katakan cukup mengerti resiko yang akan terjadi dalam urusan pilih-memilih. Tiga diantara mereka memilih jawaban yang sama. Satu nya pun beda tapi masuk diakal.

Diantara 3 jawaban sama, yaitu milih nomor 2. aku tertarik pada jawaban Yunita. Kurang lebih nya seperti ini:
"Aku lebih milih yang standard aja perhatiannya. Karna dia (laki-laki) yang masih terbayang masalalu itu cintanya rapuh walaupun terlihat sangat perhatian. Mungkin 'sangat perhatian' nya itu bisa jadi cuma buat ngilangin perhatiannya dia dari masalalunya. Dengan kata lain, kita (perempuan) masih jadi yang kedua dipikiran maupun hatinya walau status hubungan sudah relationship.

Kalo yang standard itulah tantangannya, disitu kita akan belajar gimana caranya saling memahami dan akan lebih susah ketika berpisah.

Yang penting saling nyaman dan dia tau kemana cintanya itu akan dibawa untuk masa mendatang tanpa dibayangi masalalu. Pria kayak gitu biasanya bisa cepat memposisikan diri dalam keadaan. Yang sudah ya biar berlalu." Tutur gadis mungil berjilbab dengan muka Cina KW super.


Dan ini jawaban Shella, nomor pertama, dan paling beda dari yang lainnya:
"Aku milih yang pertama , walaupun masih kebayang masalalu itu bisa diubah" ucap gadis yang tinggi badan nya kelewat keterlaluan ga sopan, lebih tinggi dari aku.


Nah jawaban ku sendiri gimana? Gini, kedua pilihan itu memang susah untuk dipilih salah satu, karena memang ada kekurangan dan kelebihannya. Mau cari yang banyak lebihnya kan juga ga ada. Ya pacaran aja sama karakter sticker Brown di LINE. Kayaknya aku cukup menyanggah kedua jawaban di atas. Menjabarkan lebih rinci.

•Yang pertama, memang idaman. Tapi setiap kita melakukan sesuatu bersama, ketawa lepas tanpa beban dan menurut kita berkesan manis, tiba-tiba dia nya terdiam sepersekian detik seakan mikir. Di situ dia pasti kebayang masa lalu nya. Kita nya senang karena ini hal pertama, tapi buat dia? Ini sudah pernah dilakukan. Sekuat apapun kita berusaha menjadi yang terbaik, tapi kalau dia nya memang ga ada niatan untuk bisa melupakan, buat apa jalanin hubungan sama manusia kayak gini?

Mungkin semua butuh waktu, butuh kesabaran dan pengorbanan yang besar. Pertanyaan nya mau sampe kapan? Sampe sosok Edward Cullen hidup didunia nyata dan dia nikahin aku? Ya aku nya mau nunggu sampe sekarang, tapi mungkin sekarang aku bakal di rumah sakit jiwa karena nunggu fantasi yang tak pernah terealisasi.

Usaha cukup lama, Capek segala nya, tak pernah terlihat oleh mata nya. Tidak kah kau lelah, wanita?

•Yang kedua, perhatian standard yang biasa nya bikin perempuan bertanya-tanya ini sayang kah? Atau cuma sebagai partner komunikasi seadanya di kala butuh saja? Perhatian standard laki-laki memang bikin kita kesel-gemes unyu unyu. Ada kala nya kita butuh dan dapet perhatian yang beda dari biasa nya, kalo selama menjalani hubungan, perhatiannya datar melulu kayak papan tulis yang di tempelin penggaris mika. Masih kerasa datar, kan? Ya kecuali Mika Angelo yang nempel di papan tulis, baru ada gelombang di papan tulis nya. Gelombang suara histeris para wanita.

Dan laki-laki childish, sejujurnya aku geregetan sama tipe ini. Kenapa? Laki-laki harusnya bisa lebih sedikit dewasa dibanding perempuan kan? Karena mereka adalah calon pemimpin kita. Mungkin seiring bertambah usia mereka baru sadar, tapi iya kalau akhirnya mereka sama kita. Kalo engga? Ya berarti kamu pernah membantu nya dewasa, dan merasakan pahit ke childish-an nya dan melihat dewasa nya bersama seorang yang lain, bukan kamu.


Pilihan ku sendiri tak jelas mau nya apa. Yang pasti aku ga akan membuang waktu untuk seseorang yang tak pernah menganggap pengorbanan ku nyata. Kalau pilihan mu gimana?
Read More

ketika sang nahkoda putar haluan

Kapal berlayar jauh tak terlihat di pelupuk mata
Nahkoda mengemudikannya dengan tenang dan suka cita
Gelombang yang menerjang tak jadi masalah
Angin yang sengaja menabrak kan diri pada badan kapal seakan tunduk pada sang Nahkoda

Layar semakin mengembang
Senyum sang Nahkoda pun semakin melebar
Ketika melihat singgasanah untuk merebahkan rangka tubuh nya yang kekar
Tak lupa pula mengisi bahan bakar

Disini sang Nahkoda menaruh impian besar pada tempat yang indah
Ingin menguasai singgasanah ini, tapi apa bisa? Tanya nya.

Seakan ini sebuah teka-teki
Dia memikirkan tiada henti
Menggerakkan bola mata dan mengernyitkan dahi
Itu lah tingkah sang Nahkoda ini

Hendak melanjutkan petualang
Datang lah masalah dari pelabuhan
Tak sempat sang Nahkoda berpikir panjang, Dia putar haluan

Kini Sang Nahkoda berada di pelabuhan
Menangani masalah dengan cekatan
Mengorbankan sebuah petualangan
Dan melupakan sebuah impian
Sungguh kasihan
Read More

Saturday, August 9, 2014

ini kah ragu?

Air mata tak akan mengalir dipipi jika hati tak tersakiti
Kecewa tak akan hadir jika janji manis terbukti
Kesedihan memang datang pada hati yang tak dapat peduli
Malang sekali..

Mengapa mencari peduli, sedang mengurus hati lebih berarti
Tak 'kan ada caci maki yang terjadi
Tak 'kan ada pihak yang tersakiti

Urusan hati memang tak ada batas nya
Tak ada undang-undang yang nyata
Hanya untaian kata yang terdengar di telinga
Yang kadang indah, atau hanya bualan semata

Yang kurasa cinta ternyata pengkhianatan
Yang kuanggap salah itu lah kebenaran
Seakan tak percaya pada realita yang Ia ciptakan
Oh konyol nya..

Pada apa aku harus berpegang teguh
Jika kebenaran yang aku yakini hanya lah semu
Tak bertahan lama dan hilang seiring angin berlalu
Tuhan, aku ragu
Bagaimana kau akan menyadarkan ku?
Tolong lah hamba-Mu
Yang selalu merasa pilu


Read More

Wednesday, August 6, 2014

Semesta tau

Ketika paras senja di sore hari menggoda
Malam pun merebut dengan segera
Memamerkan keangkuhan gemerlap cahaya

Ah, betapa indahnya mereka di atas sana
Ribuan cahaya kecil menghiasi kanvas hitam yang luasnya tiada terkira
Pesona mereka sungguh luar biasa

Angin yang berhembus ikut menikmati malam itu
Malam yang syahdu
Malam yang dapat menghilangkan pilu
Malam yang sunyi dan terhanyut pada rindu

Suara alam pun menyanyikan lagu sendu
Mereka tau apa yang terjadi padaku

Rindu berbalut air mata
Terasa susah untuk menyapa
Keraguan hati 'tuk menatap matanya
Terdiam seribu bahasa, menundukkan kepala
Aku tak kuasa

Semesta, rindu ini utuh milik nya
Jika dia kemari, katakan bahwa seorang gadis duduk manis dibawah cahaya bintang hanya untuk menunggunya
Menunggu datang nya janji indah
Yang mungkin dia lupa

Suara alam pun menyanyikan lagu sendu
Mereka tau apa yang terjadi padaku
Read More

Saturday, August 2, 2014

Kedua

Tidak semua manusia ingin menjadi nomor dua
Seakan menggapai Pertama terasa susah
Ah, itu hanya alunan manja diri mu saja
Lalu bagaimana aku harus bertingkah?
Ketika berdoa sudah ku jalani, usaha pun tak kenal lelah, lalu apa?

Tunggulah, pinta-NYA…

Urusan cinta, apa kah ada yang mau untuk di dua kan?
Jawablah jangan sungkan
Dan berilah sebuah alasan
Aku pun tak segan untuk mendengarkan

Menjadi pilihan kedua hanyalah bualan semata, percayalah
Ketika kalian pernah mendengar "kedua belum tentu tak bahagia, justru menjadi utama"
Atau "kedua akan indah pada waktunya"
Tolong acuhkan, itu hanya sebuah bualan.

Atau, urusan pilih-memilih?
Jika kalian menjadi "option kedua"
Tersenyumlah, itu tidak terlalu buruk
Hati dan logika tak menginginkannya
Tapi apa mau dikata?

Lakukan yang terbaik dan jangan mencerca
Tak ada satupun yang ingin jadi Pilihan Kedua, tak ada
Tak ada, kecuali terpaksa. Percayalah.
Read More

© Untaian Kata Dalam Cerita, AllRightsReserved.