Sunday, September 21, 2014

Berhenti Memaksa

Terkadang sebuah permintaan tidak lah sulit, hanya saja dia selalu berbelit. Lelah hati ini bertahan namun sulit untuk meninggalkan.

Barangkali diri ini baru merasa apa arti sebuah rasa datang karena terbiasa. Karena semula diri ini tak percaya dengan hal-hal 'terbiasa'. Namun dengan mu, terasa nyata.

Diri ini telah membuka mata. Bahwa sudah terbiasa, terbiasa melihat mu di depan mata. Melihat senyum menawan indah. Diri ini terbiasa untuk menerima mu disisi.

Apa yang diri ini minta tidak lah susah. Hanya saja selalu kau alihkan tanpa arah. Kenapa?

Seribu satu alasan kau jabarkan, tidak lah membuat ku berhenti untuk selalu meminta. Namun setelah ini berlangsung lama, aku rasa cukup sudah. Aku tak akan memaksa. Aku mulai lelah.

Dengan mu, ini mengalir begitu saja. Tanpa rencana, tanpa perintah. Namun kau acuh dan selalu begitu. Diri ini terbiasa dengan keacuhan, tapi kau sungguh kelewatan.

Tidak ada lagi permintaan sederhana. Tidak ada lagi yang memaksa. Tidak ada lagi yang akan menjadi arti dalam sebuah jumpa saat bertatap mata. Tidak ada.

Diri ini tidak akan pernah berubah untuk mu, untuk mu yang kedatangannya selalu kutunggu, namun acuh tetap menjadi bagian dari mu. Entah sampai kapan kau begitu. Tidak kah kau lelah lelaki lucu ku? Oh, maaf, maaf kan aku yang mengakui. Kau bukan lah milik ku, kau milik mereka yang menikmati materi candamu dengan tawa.

Aku? Aku hanya menjadi bagian di nomor sekian dari daftar mu. Mengerti posisi, itu tentu.

Terasa berat untuk meninggalkan namun cukup lelah diri ini bertahan. Mau sampai kapan ini menjadi sebuah permainan?

Dalam sebuah doa, jika banyak dari mereka meminta 'tuk menjadi manusia peka. Diri ini minta hilangkan rasa peka yang telah tercipta. Kembalikan diri ini menjadi wanita selama tiga tahun ini saat merasa bebas, lepas, hampa, dan tak menerima mereka semua yang mencoba.

Diri ini berharap semoga kau berubah. Jika akhirnya kita tak bersama setelah kau menjadi pribadi baru. Diri ini akan selalu dan terus tersenyum, "diri ini menikmati dan menemani saat kau menjadi acuh. Semoga hanya diri ini yang kau beri sensasi dingin dan beku mu"

Tidak ada lagi permintaan sederhana. Tidak ada lagi yang memaksa. Tidak ada rengekan manja. Tidak ada lagi yang akan menjadi arti dalam sebuah jumpa saat bertatap mata. Tidak ada. Mungkin kau tak rasakan ada yang beda, karena kau tak pernah gunakan rasa. Kau tak pernah merasa.

6 komentar:

  1. (((Tidak kah kau lelah lelaki lucu ku?)))

    Sebaik-baik memaksakan adalah memaksa diri untuk melupakan. Mau nggak mau harus dipercaya kalo batas itu emang ada.

    ReplyDelete
  2. Kayaknya bisa di cek golongan darah pasangannya. Kalo dia B, memang wataknya cuek.. hehehehehe..
    *haduh, gak nyambung.

    ReplyDelete
  3. Yakin nih nggak akan maksa-maksa lagi princess?
    Terkadang sebuah tulisan atau perkataan selalu tidak sesuai dengan perasaan loh. Hahahahahaa

    ReplyDelete
  4. Kok cuek gitu siiich? :( Aku lho gak cuek :3 *apa sih us?

    ReplyDelete
  5. duh, gue nggak ngeh mau komentar apa -,- bingung...

    dari yg gue baca sih, kok nggak ada hubungannya sama judul yah ? apa gue yg bego ini -_-

    ReplyDelete
  6. Setelah aku baca tulisanmu, kamu pandai sekali membuat prolog ya... :)

    ReplyDelete

© Untaian Kata Dalam Cerita, AllRightsReserved.