Thursday, September 11, 2014

Hitam Putih (Mu)

Malam menjadi saksi jumpa kita saat itu. Tidak dengan atmosfer yang dingin dan beku, tidak juga dengan hanya bertatap mata lalu membisu. Kita berbagi cerita dari sudut pandang yang beda. Tentu ini yang ku suka dari kita. Tidak, dari cara kita tepat nya.

Membunuh detik demi detik dengan mu bukan lah masalah. Canggung pun tak aku rasa. Bahkan sesekali mencuri pandang ke arah mu tak lagi membuat pipi ku merona merah saat kau mengetahui apa yang sedang aku lakukan. Dan kau, acuh seperti biasa. Sesekali melempar senyum dengan tatap mata yang buat ku slalu jatuh cinta.

Kita mulai bicara tentang agama. Apa? Yah, tentang agama kita. Islam. Sama. Bukan tentang penyebaran Islam di Indonesia, juga bukan tentang sebenarnya berapa Nabi dan Rasul yang ada. Hal-hal ringan yang tercetus di kepala, sehubungan dengan moral manusia saat ini yang terkontaminasi globalisasi. Lupa dimana manusia akan abadi dan hanya mengejar nikmat duniawi. Pedih.

Lalu kita bicara apa tujuan orang menikah? Terlihat menggelikan untuk orang lain yang mendengarkan diskusi kita; dua muda-mudi yang amat belia berbicara "tujuan menikah". Mereka tak tahu dan selalu memandang sebelah mata. Kita menjawab bergantian dengan konspirasi pengetahuan apa adanya diusia yang amat muda. Di topik ini sesekali kau tertawa dan membuat suasana lebih mencair dengan selingan canda yang aku suka.

Melompat tentang politik, yang saat itu semua orang bahas dengan asyik. Padahal si politik tidaklah cantik entah mengapa orang tertarik.
Kita tentu akan mengupas apa yang sedang hangat, seperti menyentuh es batu di dalam pemanggang, leleh dan terasa hangat.
Tentu pilihan kita beda, aku nomor satu dan kau semi-nomor-dua. Tapi kita tidak lah pecah, tidak meluap amarah. Kita berdiskusi layaknya perdana menteri. Terlihat geli, tapi sangat menikmati topik ini.

Saat dua logika saling beradu, sebentar, jantungku berdegup cepat saat kau ungkap "suka", dengan gaya acuh seperti biasa. Lalu kita bercerita awal jumpa, awal bicara dan awal suka. Aku....berkata sama. Sudah lama aku menunggu, menghilangkan segala ragu, bahwa tidak lah semua-orang-berprofesi-sama-sepertimu memiliki hati yang beku. Dan susah untuk ku memilah antara keseriusan atau hanya candaan.

Kita saling tahu bagaimana keadaan hati saat itu. Ingin rasanya berkata "izinkan aku menemani selalu" tapi terasa ragu. Kita enggan tak bertegur sapa saat jumpa, barangkali menjalin hubungan hanya untuk perpisahan penuh tangis dan menjadi orang lain yang tak saling kenal. Kita menghindari hal seperti itu.

Kita kembali mengadu logika, kali ini banyak tawa canda. Karena sesungguhnya ini malam berdua untuk pertama kali nya tanpa sengaja. Iya, aku bersumpah. Setahun kita bersama, dan baru malam itu kita membunuh sore hingga malam berdua. Biasa nya kita bertemu untuk melihatmu menghibur mereka yang haus akan tawa.

Hingga tercetus kata "ayo foto" dari mulut ku. Sebelum mengambil potret kita berdua, aku mengambil gambar mu seorang diri. Untuk koleksi terbaru mu sendiri. Kau minta diarahkan bagaimana senyum sempurna yang tulus, dalam hati ku berkata, cairkan hati mu sejenak, rasakan hadirku di sini.

Melihat hasil diri mu sendiri, beberapa kali tersenyum puas dan itu adalah senyuman manis yang pernah aku nikmati. Dan kau mengganti potret diri mu dari berwarna menjadi hitam putih, "terlihat bagus begini"
Belum sempat aku menjawab, kau melanjutkan "hidup ku kok ga berwarna gini ya semua foto rasanya bagus di hitam putih"
Penjelasanmu membuatku tertawa kecil.

Dari sini aku memelajari hitam putih itu sendiri, kamu menggilai warna yang sudah bukan era-nya. Tapi setelah aku tamatkan, Einstein terlihat lebih muda dengan foto hitam putih nya. Entahlah.

Aku merindu saat kita saling memaparkan segala logika, saat aku meyakinkanmu, mengelus telapak tangan bagian atas dan berkata "bisa kok, kamu bisa", melihatmu manjakan mereka dengan segala materi canda yang kau punya, percakapan random setiap malam.

Kita. Tetaplah begini adanya. Jangan berpisah dan jangan menjauh begitu saja. Jadilah hitam putih yang selalu ku rindu. Terima kasih, kau mengajarkan ku hitam putih hidup mu.
"Life is like a piano; black and white. If God play it, all will be beautiful melody. And I'm there in colour. And thanks a lot, you taught me how to use black and white correctly, in real life"

Trust me, this picture just my-narcissism from my-instagram. Hoho.


29 komentar:

  1. Memang benar, photo yang di edit menjadi hitam putih akan menjadi lebih waw bagi gue. Entah apa alasannya, yang jelas begitulah kenyataannya *sok puitis*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sependapat sama lo, at least untuk belakangan ini. Emang terkadang ada unsur seni yang bikin elegant gitu sih. Tapi sekali lagi ya balik selera atau esensi tiap orang *nggenjreng gitar*

      Delete
  2. coba baca tulisannya sambil dengar lagu S.I.D - pulang , pasti lebih keren . coba aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan ku ingin pulang~
      Udah di dengerin sih........tapi keren nya bingung dimananya. Soal nya musiknya kan gitu banget:( ini mah cocok sama lagu lagu sendu mah kayaknya.

      Delete
  3. Wah, memang menyenangkan ya diperbolehkan waktu untuk mengobrol dengan orang yang tepatm terlebih kesayangan. Rasanya bisa membahas apapun tanpa perlu mengalami keadaan awkward dulu hehehe. Dia yang dimaksud comic ya? Ada kalimat 'untuk membuat mereka tertawa...' gitu sih hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya, terlebih lagi ga ada sesuatu yg mengikat antara kita. Jadi, ya-begini-saja-lebih-baik. Hehe waduh peka amat neng jadi cewe:( tau aja sih:$ hihi

      Delete
  4. wih keren prosanya milik princess Giska, eh ini jenis prosa bukan ya ...
    satu pertanyaan apa bener foto hitam putih itu, memberi efek lebih muda, perasaan sama saja :P ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah. Mungkin. suka aja sih kalo seirama gitu, kalo dialunkan jadi gimana gituuu.
      Menurutku selera sih ya, tapi kalo aku liat Einstein itu emang bener adanya:)) just my opinion.

      Delete
  5. mau hitam putih atau berwarna esensinya tinggal bertanya pada yang melihatnya saja. Ada banyak sudut pandang dan jawaban berbeda ketika kita menyimaknya:)

    Semoga kebersamaan itu selamanya. Menjadi bahagia dengannya. Perpisahan itu biasa, jadi tidak perlu ditangisi selamanya (kalau nanyi akhirnya pisah juga^^V)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap. Setuju deh sama kamuuuu *sodorin chunky bar*

      Aamiin. Bersama hanya sebatas ini saja. Lagian bersama kan emang ga harus "bersama" dalam arti sesungguhnya ya kan? But nobody knows the next:)

      Delete
    2. Asssik, dapet chunky bar. Sini sini, bisa buat obat kalau lagi sedih tuh:D

      Cieee, kayaknya you want something the next yak? Eaaaa....smoga sukses deh berdua:D

      Delete
  6. memang kalo ngobrol dengan "dia" pasti akan membuanuh waktu dan gak sistematis. Lompat sana sini topiknya.

    Aku suka quotenya yang terakhir.. ""Life is like a piano; black and white. If God play it, all will be beautiful melody. And I'm there in colour. And thanks a lot, you taught me how to use black and white correctly, in real life""
    Dalem banget maknanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. it's true. dan gatau kepikiran quotes itu darimana, soalnya pas mau upoad foto instagram selagi bingung cari filter, sambil liat tuts keyboard yang warnanya emang black and white, and taraaaa, begitulah hasilnya, Miss.

      he taught me about it...

      Delete
    2. I learned piano but I never think about that :D

      Delete
  7. ooh, jdi cerita ini ngebahas tentang pacar. again? fyuuuh... kyaknya gue harus pnya ekstra sabar buat baca'' tlisan org tntng pacarnya.

    yah, memang bner sih. lebih baik fto sperti itu. hitam-putih. sama halnya kyak piano, qoutenya bagus. walaupun gue ga paham juga sih. tapi ttep clasic no 1

    ReplyDelete
    Replies
    1. He's not my boyfriend. He just my special one, more than the other.
      Cari pacar atuh Maka nya, jangan betah sendiri *kayak yang ngomong sok punya aja*

      Delete
  8. Ngomong ngelompat-lompat, karena kadang, kita gak peduli apa yang diomongin, tapi ngomongnya sama siapa, haha.

    Kalau gue mah, ngomongin apa-apa bakalan bosen, soalnya ngomong sendiri sama kaca -_____-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga gitu juga lah, tapi kadang ngomong sama orang yang kurang nyambung kan ga asik jadi nya. Jadi kesel sendiri kita mah.

      Sini lah ngobrol sama princess, apapun bakal di kupas setajam piso dapur=))

      Delete
  9. Lah ngepas banget nih baca ginian sambil denger lagu Coldplay - Fix You. Jadi agak gimana gitu :')
    Fotonya cakep nih, pacarin bisa kali~ *lah

    ijin follow :3

    ReplyDelete
  10. Gue gak tau harus ngomong apa, terkesima, mungkin iya, hening, juga ya, entahlah. Gue akhir2 ini sedang bingung tentang cinta. "malah curhat"

    Tapi tulisannya bagus. Like

    ReplyDelete
  11. Haha enggak cuma einstein kok yg keliatan lebih muda di hitam putih, hasil jepretanx juga keliatan lebih muda. Haha. Soalnya kalo berwarna full kita akan tahu detail dari objek. Yg gue tangkep dari post elo, elo ingin sampaikan indahkan menjadi hitam putih, bisa itu baik buruk, pria wanita atau yg lain. Ketika hal yg pasti itu kecampur warna lain, dia tak indah lagi. Ibarat pria wanita, ada lekong. Haha sorry gue ngasal

    ReplyDelete
  12. Quotenya keren banget, padahal gue gak ngerti apa itu artinya -_- yang penting ada piano. udah gitu aja.

    Kata kata yang dipake di postingan ini juga agak tinggi. Konspirasi, gak ngerti. ngomongin nikah saat usia masih muda sama kek ngomongin skripsi waktu SD, gak nyambung.

    ReplyDelete
  13. Uh... Cakep tulisannya. Bahasa dan kalimatnya juga. Dali suka banget deh pokoknya.

    Eh iya, emang agak aneh juga sih misal ngedengerin para pujangga berdua duduk ngomongin soal nikah. Nggak heran kalau orang-orang pada ngeliatin. Tapi bisa jadi yang agak risih pas kalian berdua ngomongin nikah itu jomblo semua. Iyah, bisa jadi.

    Pertama bahas agama, nikah, terus politik. Gila ini apaan banget. Tapi jujur, anak muda emang harus sering-sering bahas semua itu, biar nanti tahu gimana kehidupan akan berjalan. Biar taunya gak cuma cinta-cintaan aja.

    ReplyDelete
  14. "Einstein terlihat lebih muda dengan foto hitam putih nya." kalimat yang ini bakalan bikin kamera 360 gak laku lagi. hehe

    ReplyDelete
  15. Setiap paragraf dipasanfin rima yaaa, terhenyak sihh, superrrrr, keren lahhhhh

    ReplyDelete
  16. Ah Giska.. terdengar menyenangkan sekali ya.. meskipun tercium juga hawa-hawa sendu. Apakah... apakah kau sedang merindu? Momen-momen bersama dia yang hangat-hangat kuku? Kau pandai sekali meracik kaldu, menjadi tulisan rindu penuh bumbu..

    Aku jadi penasaran.. aku cuma sekian bilangan saja singgah di kafe remang-remang itu, tertawa bersama pengunjung lainnya. Mungkin saja aku pernah menertawakan dia, atau boleh jadi juga kami pernah menertawakan orang yang sama. Atau di kesempatan terakhirku di sana, boleh jadi kami saling menjabat tangan.. atau juga saling berbincang.. ah hitam putih, siapa ya...

    Aku jadi penasaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohiya.. ingin menambahkan. Pantas saja avatar twittermu hitam putih! Wkwkwk

      Delete
  17. Dan sekarang aq memenuhi janjiku untuk berkunjung ke 'rumahmu' hahaha
    Ceritamu bagus, dan yang aku suka adalah saat km dan ehm *entah siapapun itu* sedang asik ngobrol, pasti waktu akan berlalu cepat ya?

    ReplyDelete
  18. mantab..ada kesan2 cerpen yang terihat....tapi cerita nyatanya juga nggak hilang..bahasanya juga mantab...

    bener kata huda..
    suasana-suasana rindu

    ReplyDelete

© Untaian Kata Dalam Cerita, AllRightsReserved.