Friday, September 19, 2014

Resah Memecah Malam

Malam itu malam yang beda, tak seperti biasa. Menyusuri jalanan ibukota. Sendiri saja. Menuju tempat kali kedua aku kesana. Dengan tujuan yang sama, menikmati materi canda mereka dan membayar dengan tawa.

Tidak. Tidak hanya itu. Aku menemui komika ternama yang tinggal di Ibukota, berbincang tentang kelanjutan sebuah acara megah, yang mungkin akan buat pemirsah tak bisa lupa. Mereka terpesona. Semoga (ini terbukti nyata).

Banyak dari mereka tertawa lepas. Seakan mereka baru paham betul arti bebas. Aku? Sama. Hanya saja dengan orang-orang yang baru ku jumpa. Tak seperti biasa.

Seratus delapan puluh menit aku berada di sana, tak melulu selalu tertawa. Karena sebenarnya.... aku hanya memalingkan rasa sepi yang menggelayuti belakangan ini. Mungkin ini sering terjadi. Tapi, ini kali kedua aku merasa sangat sendiri dalam hati.

Tak lama kemudian aku sudah mengendarai beatty menuju rumah. Melewati jalanan yang mulai sepi tanpa penghuni. Memecah dingin nya malam dengan kecepatan yang tak normal untuk seorang wanita. Tapi ini sudah biasa. Bahkan saat berusia tujuh tahun, tekad bulat aku beranikan diri mengendarai sebuah motor trail mini di alun-alun kota dan meninggalkan goresan luka. Betapa laki nya aku saat itu. Memikirkan kenangan masa lalu dalam diri ini berulang kali, menggelengkan kepala sambil berkata "Subhanallah, nakal nya aku dulu. Dan aku bangga."

Ketakutan memburu di tengah perjalanan. Mengingat kriminalitas yang kerap terjadi, pasrahkan diri dan selalu menyebut nama-NYA dalam hati. Lindungi hamba-MU ini.

Rasa sesak muncul seketika. Tapi yang kurasa bukan lah penyakit yang merepotkan anggota PMR sekolah, mengingat banyak siswa sesak nafas, lemas tak berdaya saat upacara bendera.

"keluarkan, keluarkan saja"

Terdengar samar suara yang entah darimana asalnya. Kecepatan beatty bertambah. Aku.. mulai resah.

AAAAAAAAAAAAAAA

Kemudian aku berteriak sekencang mungkin. Menyebut satu nama yang entah sampai detik ini masih tersimpan di hati, meski hanya menunggu seorang diri. Mencaci mereka yang pernah singgah lalu pergi tanpa permisi, yang mengingkari sebuah janji persahabatan kini hingga nanti dan sekarang hanya jadi serpihan abu tak berarti, yang pernah bermain api berulang kali di belakang tanpa ku ketahui. Barangkali ada pengendara lain yang mendengar, aku pun tak peduli. 

Dua puluh lima menit, aku berteriak. Menyeruak bagai ombak. Mengeluarkan apa yang membuat dada ini sesak. Barangkali ada sebuah kapak, mungkin ku habiskan untuk menebangi pohon di hutan sambil menanami kembali pohon yang baru. Emosi membawa berkah. Aduh sayang, ini apa.

Menahan dan menahan agar butiran air suci yang singgah di mata tak menampakkan diri. Aku tak ingin merasa paling sedih. Karena aku sadar, ini bukan lah masalah berarti. Aku hanya ingin mengeluarkan segala resah yang menggelayut dalam dada. Dan malam itu terlepas sudah. Seiring senyum yang merekah saat sudah dekat rumah.

Aku bersyukur hati masih berfungsi dan merasa yang seharusnya di rasa sampai detik ini. Dan aku bersyukur, semesta tak pernah mengeluh mendengar segala emosi meski kadang aku tak pernah melakukan suatu besar untuknya, kecuali menjaga kebersihan sekitar ku sendiri.

Terima kasih Ya Allah, Kau menjaga dan bersama ku selalu. Terima kasih karena Kau perintahkan semesta tak menjahati ku di malam itu..
Rabu, 17 September 2014. Hampir tengah malam.

9 komentar:

  1. jadi ini ceritanya keluar malem sendirian..
    Memang bahaya sih mbak, tapi saya dulu juga pernah sama temen2 tapi.
    Semenjak udah gedhe-an dikit, malah gak pernah lagi
    **betapa pengecutnya diriku

    ReplyDelete
  2. hay Giska, ank broadcast jugakah? wah asik. salam kenal yaa :) kpan2 sharing :)

    hanya memalingkan rasa sepi. aah, kesepian itu mmang menyakitkan. wlaupun udh brusaha untk memalingkannya. nyatanya? ttap aja gagal kan?

    eeh ternyata kmu kecil 'jantan' yaah. haha :)

    ReplyDelete
  3. GIla, berat bener bahasanya... Tapi, menarik untuk dibaca. Memang untuk ukuran cewe keluar malem itu bahaya banget. Kamu anak mana? Gila, laki bener pas lagi kecil naik motor trail mini ke alun-alun kota xD

    ReplyDelete
  4. Princess kok keluar malem sendirian?. Ntar kalau jumpa ganteng-ganteng serigala gimana? kalau darah suci princess di hisap sama orang tuh gimana? *ini apaan sih*

    ReplyDelete
  5. Bahaya loh keluar malem2 sendirian ._.

    ReplyDelete
  6. Aduh yang ngakunya princess, masa gak minta temenin pangerannya untuk keluar malem - malem?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mandiri ato belum di jodohin sama pangeran mahabrata.

      Delete
  7. Ya ampun aku banget deh. Kalau resah, memilih pergi motor-motoran sendirian, nggak punya tujuan, hanya menikmati waktu sendiri dan bercerita bersama angin. Hanya dalam hati. *hih bahasanya*

    Tapi memang cara itu menurutku manjur. Pulang-pulang ke rumah udah enakan deh :D

    ReplyDelete

© Untaian Kata Dalam Cerita, AllRightsReserved.