Saturday, April 25, 2015

Cerita 24 April 2015

Waktu enggan berhenti ketika aku belum juga menuntaskankan hal-hal yang menghalangi ku nanti. Berputar dan terus berputar seolah aku akan kehabisan waktu. Dentingan jarum jam mencoba mengingatkan, aku harus segera selesai dengan ini. Karena secepat mungkin aku harus bertemu rindu. Harus bertemu.

Perjalanan memanglah cukup menyita waktu, tapi iringan lagu yang melekat pada dirimu juga sedang melekat ditelingaku. Menemani sepanjang perjalanan, membayangkan mu yang belum pernah aku saksikan. Namun tidak lama, lamunan ku tentangmu buyar ketika rintik hujan mulai terasa syahdu. Perjalanan masih jauh tapi bayangan dirimu buat ku tak henti tersenyum malu.

"Nah itu!" ketika seorang teman berkata dan menunjuk kearah bangunan tua yang belum pernah aku datangi. Bangunan bersejarah yang pernah menjadi tempat mereka para pelawak ibukota  mengais rezeki dizaman itu, yang kini mereka sudah mondar-mandir dilayar kaca. Ada yang bertahan dan tetap eksis namun ga banyak juga dari mereka yang sudah tergeser oleh para pelawak muda. Tapi tetap mereka lah sang legenda.

Aku sudah berada di backstage untuk mencari sosok mu ketika aku sudah selesai dengan urusan penampilanku. Maklumi wanita mu.
"Hai" sapa mu begitu kamu menemukan diri ku duduk manis dibelakang sound acara. Secara otomatis lengkungan senyum di bibir kita sudah terbentuk begitu saja ketika kita bertatap muka. Bahagia begitu sederhana hanya dengan melihatmu tersenyum didepan mata.

Aku memasangkan dasi hitam di kemejamu. Kamu menatap ku dan mencuri kesempatan untuk berkata "I love you", dhuar! Jantungku berdegup kencang, menatapmu yang tersenyum padaku buatku susah menahan senyuman. Tersipu malu itu tentu. Kebiasaan mu memang lah begitu. Mengucapkan kalimat kalimat yang mengandung magic dikondisi tidak tertentu dan secara tiba-tiba. Dasar kamu.

Membenahi mu usai sudah. Aku berjalanan menuju bangku penonton yang sudah kamu siapkan. Duduk bersama teman-teman yang aku sayangi, menyaksikan pertunjukan orang-orang istimewa di hati kami sendiri-sendiri. Dan aku resah ketika tubuh ini memberi ultimatum tak terduga. Oh kumohon jangan dulu, kumohon nanti saja.

Acara pun di mulai ketika tiga bapak-bapak lucu menyambut para penonton. Komika senior-sesuai usia, itu lah mereka. Satu persatu dari mereka menampilkan yang terbaik. Tepuk tangan serta riuh tawa memecah gedung srimulat Surabaya malam itu.
Giliran mu tiba. Aku makin resah. Bukan tentang penampilanmu, tapi tentang diri ku sendiri. Ayolah tubuh jangan manja!
Kamu berjalan ketengah panggung, melepaskan gyobok mu dan meletakkan diatas kursi, lalu..
"Annyeong haseyo" sapa mu pada penonton dan ledakan tawa menggelegarkan bangunan tua itu.
"Kamu, saranghae" sambil menunjuk kearah ku dikursi paling depan dan ber-act out layaknya remaja korea setiap mengucapkan kalimat magic itu. Teman disekitar yang paham sudah mulai mengeluarkan kata ciye dan sebagai nya. Alaahh, muka ku sudah memerah. Ah tidak, itu efek karena tertawa.

Sepuluh menit kamu berdiri sendiri diatas panggung, bercerita dan penonton menertawakan. Aku melihat mu untuk pertama kali nya dan kamu terlihat nyaman, apa aku benar?
Karena acara stand up comedy ini bernamakan Man In Love, tentu kamu pun seperti yang lain membahas tentang cinta dari sudut pandang mu. Kamu tak henti buat ku senyum.

"Janganlah mati demi cinta dan dikenang dalam tangisan.
Hiduplah, mencintai dan buat kenangan indah bersamanya" kamu mengucapkan kalimat itu sambil berjalan ketepian panggung sambil membawa gyobok yang tadi diatas kursi. Lalu sambil menuruni tangga panggung, berjalan menuju arahku
"...dan saya akan membuat kenangan indah bersama anda. Saranghae" kamu melanjutkan kalimat itu sambil melingkarkan gyobok di pundak ku dan memberi setangkai bunga mawar merah. Kamu, memang paling bisa. Suara ciye dan tawa penonton jadi satu. Sesungguhnya aku tersipu malu. Terimakasih kamu.

Terimakasih untuk segala yang sudah kamu persiapkan untuk malam itu. Kamu juara hati ku. Kamu bukan lah orang romantis, kamu tidak terlalu banyak janji, kamu bukan lah perancang rencana yang handal, tapi kamu lakukan apapun secara spontan, random dan selalu berakhir manis. Maaf untuk penutup malam itu aku sudah terlalu lemah karena ultimatum tubuhku sudah meledak, dan aku tak berdaya. Terimakasih untuk perhatian, kekhawatiran nya. Kamu paling bisa buat aku merona merah.

Man In Love
Jumat, 24 April 2015
Gedung Srimulat Surabaya. Aku mengenang secuil kisah random sampah manis kita disana.


Read More

© Untaian Kata Dalam Cerita, AllRightsReserved.